PEREMPUAN HIV DI TENGAH BENCANA
11 May 2022
Show all

PERJUANGAN SEORANG PEREMPUAN DENGAN HIV BAGI ANAKNYA

Ketika manusia dilahirkan ke dunia tidak ada yang bisa memilih ingin lahir di keluarga miskin atau kaya, warna kulit gelap ataupun terang, lahir sebagai perempuan, laki-laki atau keduanya, tidak ada yang tahu mau jadi apa kita di dunia. Tetapi, beberapa manusia masih selalu percaya bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai manusia yang suci, baik dan tanpa pembedaan. Sayangnya masih ada sebagian manusia lagi yang selalu memandang baik buruk manusia dari kacamata moral, pekerjaan, latar belakang keluarga, pendidikan dan harta.

Mawar tidak pernah memilih mau jadi apa kelak, karena dia lahir sebagai perempuan, dia harus membantu pekerjaan di rumah dan kakak laki-lakinya yang sekolah. Ketika remaja, Mawar harus segera menikah karena perempuan di kampung akan buruk di pandangan masyarakat ketika belum menikah, akan dibilang perawan tua, tidak laku dan menjadi beban keluarga.

Setelah Mawar menikah, ia masih saja harus menerima ketika dia diceraikan hanya karena melahirkan bayi perempuan, ketika keluarga suaminya menginginkan keturunan laki-laki sebagai penerus keluarga. Bagi keluarga suaminya, perempuan hanya akan jadi beban keluarga. Bahkan ketika Mawar menjadi kepala keluarga saat suaminya meninggal, jadi ayah sekaligus ibu untuk anaknya.

Mawar juga tidak bisa memilih pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya, karena latar belakang pendidikan, usia, dan karena Mawar adalah perempuan yang sudah melahirkan, membuat pilihan yang hadir dalam hidupnya menjadi begitu terbatas. Berbagai macam pekerjaan mulai dari buruh tani, berdagang, pembantu rumah tangga, dia kerjakan, tapi akhirnya tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup Mawar dan anaknya.

Yang dikerjakannya bukan pilihannya

Ketika Mawar bertemu dengan seseorang yang menawarkan pekerjaan sebagai pengantar minuman di sebuah bar di pinggiran Kota Surabaya dengan upah yang cukup tinggi Mawar langsung bersedia, hanya pengantar minuman dengan jam kerja mulai pukul 20.00 sampai 02.00 wib tapi Mawar bisa mencukupi kebutuhan dia dan anaknya. Tapi lagi-lagi perempuan selalu saja berhadapan dengan pandangan buruk masyarakat. Masyarakat desa yang melihat Mawar pergi malam pulang pagi dan seorang janda pula, menjadikannya bahan gunjingan dan berakibat fatal bagi Mawar dan anaknya.

Mawar dituduh bekerja sebagai pekerja seks, lonte atau pelacur….

Mawar harus keluar dari desa karena diusir dan tidak diakui sebagai anak dan keluarga lagi. Dia dianggap sebagai aib keluarga, perempuan dan anak yang tidak bermoral yang hanya membawa malu bagi keluarga, serta musibah dan kesialan bagi penduduk desa. Mawar dan anaknya pun mulai mencari kehidupan mereka sendiri. Saat ini Mawar bertekad apapun akan dilakukan walau menjual atau mengorbankan dirinya agar anaknya tidak lagi mengalami hal yang sama pada dirinya. Cukup Mawar yang selalu mendapat kekerasan, tidak mengenyam pendidikan dan tidak beruntung dalam pekerjaan.

Pilihan pekerjaan Mawar adalah menjadi pekerja seks, dimulai tahun 2005 Mawar harus menerima dan terus manjalani takdirnya di salah satu lokasi di Kalimantan. Tanpa pengetahuan dan informasi tentang Penyakit Menular Seksual, HIV (virus yang merusak kekebalan tubuh), Hak Reproduksi dan Hak Kesehatan Seksual serta pencegahan penularan, setahun Mawar bekerja dia terpapar HIV. Ketika hasil pemeriksaan diberikan Mawar harus keluar dari tempat selama ini dia bekerja karena peraturan di sana adalah ketika pekerja seks sakit atau tertular HIV maka dia harus berhenti dan keluar dari tempat itu.

Mencari nafkah dalam rahasia dan ketakutan

Mawar kembali mencari tempat untuk mengais rejeki sebagai seorang penjaja layanan seks. Mawar membawa serta anaknya yang saat itu berusia 8 tahun ke Kota Kupang. Berbekal ongkos dan informasi dari teman, dia berangkat ke Kota Kupang dengan menggunakan kapal laut, kemudian masuk ke Lokalisasi Karang Dempel, sebuah tempat di pinggir kota Kupang yang berbatasan langsung dengan laut. Saat berkenalan dengan saya, Mawar meminta tolong agar status HIV-nya disembunyikan.

“Bu, tolong status saya disembunyikan. Saya akan diusir dari sini apabila penghuni dan pengurus lokalisasi mengetahui saya adalah pekerja seks dengan HIV.”

Saat itu saya mencoba berstrategi, karena ketika VCT (tes dan konseling sukarela) dijalankan, semua penghuni lokalisasi harus diambil sampel darahnya. Ketika salah satu tidak diambil berarti ada yang salah. Saya putuskan tetap mengambil sampel darah Mawar tetapi tidak saya antarkan ke Lab Rumah Sakit untuk diperiksa, melainkan saya buang agar status Mawar tetap aman. Dengan perjanjian Mawar tetap mengkonsumsi ARV dan selalu sehat.

Saya pernah bertanya mengapa Mawar membawa anaknya. Mawar menjelaskan dengan airmata, pernah anaknya ditinggal di desa tetapi ketika Mawar tertangkap saat razia tibum, Mawar masuk panti rehabilitasi selama 6 bulan, dan anaknya hanya bisa makan dengan ubi kayu saja. Peristiwa ini membuatnya bertekad akan memperjuangkan hidup anaknya, agar bisa bersekolah dan hidup tanpa hinaan dan cemoohan.

Tahun 2019 lokalisasi Karang Dempel ditutup oleh Pemerintah Kota Kupang sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Sosial bahwa tahun 2019 Indonesia Bebas Prostitusi. Mawar dan 182 orang pekerja seks dirampas haknya sebagai warga negara, ditutup tempat tinggal dan pekerjaannya dan dikembalikan ke tempat asal mereka. Mawar dan pekerja seks lain berjuang mempertahankan lokalisasi tempat mereka bekerja, membangun aliansi, audiensi dengan Pemerintah Kota Kupang, aksi damai, membuat kegiatan malam renungan malam HUT RI, tetapi semua ditolak. Keputusan Pemerintah kota tegas. Lokalisasi Karang Dempel tetap harus ditutup. Keluhan Mawar tidak terdengar, mau kemana Mawar ketika dikembalikan, bagaimana nasib anaknya yang saat ini mulai masuk ke perguruan tinggi, mau ambil di mana ARV dan di mana Mawar harus bekerja setelah lokalisasi ditutup.

Belum dua minggu Mawar dipulangkan saya mendapat pesan singkat Whatsapp…

“Bu saya minta maaf saat ini saya sudah di Kupang, saya kembali. Uang sebesar enam juta lima ratus bantuan modal dari pemerintah tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup saya. Saya bayar kos, bayar kredit motor, uang sekolah anak saya dan makan minum. Saya juga bingung saya mau pulang kemana karena saya sudah tidak lagi punya keluarga di desa. Tolong bantu saya bu, saya hanya ingin hidup dan menghidupi anak saya. Jaga saya, saya hanya takut tertangkap oleh Polisi Pamong Praja, karena ketika saya dipulangkan saya menandatangani pernyataan bahwa saya berhenti sebagai pekerja seks dan saya takut ketika saya ketahuan bekerja kembali sebagai pekerja seks saya akan di penjara.….”

Perjuangan sampai keringat terakhir

Mawar dan beberapa pekerja seks bekerja secara sembunyi-sembunyi, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketakutan ditangkap dan terbuka status HIV-nya membuat Mawar sangat kesulitan dalam menjalankan pekerjaannya. Tahun 2020 kehidupan Mawar semakin sulit. Pandemi Covid 19 berdampak buruk pada seluruh masyarakat apalagi pekerja seks. Kebijakan pemerintah menutup semua tempat hiburan, pembatasan pertemuan dan berkumpul dan ketakutan terpapar Covid membuat Mawar kesulitan bekerja dan akhirnya kesulitan keuangan. Mawar sakit, dia kekurangan gizi, tidak punya uang untuk mengambil ARV dan ketakutan meminta tolong karena statusnya.

Ketika anak Mawar dan teman-teman pekerja seks akan membawanya ke rumah sakit untuk pengobatan, Mawar menolak. Dia takut menjadi beban karena dia tidak punya uang, dia takut karena statusnya sebagai pekerja seks dan juga status HIV-nya akan diketahui. Informasi bahwa Surat Keterangan Tidak Mampu tidak bisa digunakan di rumah sakit makin membuat Mawar ketakutan. Mawar takut anaknya akan mendapat masalah. Tetapi pekerja seks dan teman-teman Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) dan Yayasan Flobamorata Peduli yang adalah mitra kerja OPSI berhasil meyakinkan Mawar dan membawa Mawar ke rumah sakit dan mendapat bantuan pengobatan di ruang IGD. Tapi walaupun Mawar sudah mendapat perawatan selama tiga hari, nyawanya tidak dapat tertolong lagi.

Kondisi Mawar yang hanya tinggal kulit membungkus tulang, dan sudah sulit diajak berkomunikasi karena hanya bisa mengerang menahan sakit, membuat dokter tidak lagi bisa membantu Mawar untuk mempertahankan hidupnya. Tanggal 6 Desember 2021 pukul 16.52 WITA, Mawar menghembuskan napasnya yang terakhir. Tangisan dan derai air mata anak Mawar tidak lagi bisa menahan Mawar untuk tetap bertahan. Janji Mawar untuk terus menjaga anak semata wayangnya tidak bisa dipenuhi. Anak Mawar hanya bisa terus memanggil dan mengingatkan bahwa Mawar pernah berjanji akan menunggu dia lulus dan bekerja, lalu Mawar akan berhenti bekerja sebagai pekerja seks. Dengan harapan Mawar akan hidup dengan kehormatan tanpa hinaan dan anaknya akan membuat Mawar bahagia.

Perjuangan Mawar selama lima belas tahun menjadi pekerja seks dengan HIV harus berhenti karena tubuhnya tidak lagi sanggup menahan penderitaan. Namun rekam jejak yang Mawar tinggalkan lebih dari cukup untuk membuktikan perjuangannya sebagai perempuan pekerja seks dengan HIV dan sebagai seorang ibu yang tidak pernah menyerah dalam takdir hidupnya yang kelam.

Dalam Malam Renungan di Karang Dempel yang diadakan oleh Aliansi Tolak Penggusuran, seorang pendamping bagi korban kekerasan dan ODHIV memberi kesaksian bahwa Mawar adalah seorang perempuan pekerja seks yang tidak pernah menyerah pada ketidakadilan dan terus memperjuangkan haknya untuk dapat hidup dan diakui sebagai manusia yang sama dan setara.

Untuk Mawar… Maaf aku tidak ada ketika engkau harus kembali kepadaNya, saat ini aku yakin kamu sudah tidak lagi merasakan sakit dan sedih seperti yang kamu rasakan ketika kamu di sini. Bahagia dan damailah bersamaNya. Kami akan teruskan perjuangan dan menyampaikan pesan perjuanganmu pada semua perempuan pekerja seks dan ODHIV agar jangan pernah menyerah, jangan pernah takut untuk memilih dan memperjuangkan hidup. Mawar, harum dan indahmu akan selalu kami ingat, mawar tanpa duri, tak melukai tapi terlukai.

Oleh: Adelia

Tulisan ini bagian dari (Fellowship PKBI) Mengkampanyekan Kesetaraan Gender di Dunia Digital.