Hari Anak Nasional untuk Anak yang Dipenjara
4 August 2022
Show all

Merlyn Sopjan: Kepada Keluarga, Aku Pulang

Merlyn Sopjan (49) sudah tiga dekade terlibat dalam organisasi waria demi memperjuangkan hak-hak waria. Salah satu yang menurut dia penting bagi waria adalah penerimaan keluarga.

Oleh SEKAR GANDHAWANGI

28 Juli 2022 05:25 WIB

Saat usianya 20-an tahun, Merlyn Sopjan (49) menyabet berbagai gelar di kontes kecantikan waria tingkat nasional, serta terlibat berbagai program pemberdayaan transpuan hingga kini. Ia sadar bisa melangkah jauh karena restu orangtua. Namun, tak semua transpuan bernasib sepertinya. Ia pun berjuang agar transpuan bisa diterima tanpa syarat oleh keluarga.

Banyak transpuan yang minggat dari rumah dengan luka di hati karena tak diakui keluarga. Beberapa lainnya mungkin minggat dengan bekas luka di tubuh. Mereka lantas tumbuh dengan sejuta pertanyaan di kepala, ”Apa yang mesti kulakukan agar bisa pulang? Bagaimana agar keluarga di kampung bangga? Kenapa mereka tidak menerimaku?”

Pergumulan itu seperti sel kanker yang merongrong jiwa. Akan selalu ada yang ”tidak selesai” di benak transpuan yang tak diakui keluarga. Hantu masa lalu dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab membuat pundak mereka berat. Mereka tak punya pilihan selain melangkah maju tanpa tempat untuk pulang.

Yang diinginkan transpuan sebenarnya sederhana, yakni dipandang sebagai manusia yang setara, yang sama-sama mendapat dukungan dan penerimaan tanpa syarat. Mereka juga mengharapkan hal ini dari keluarga.

Merlyn meyakini bahwa setiap makhluk ciptaan Tuhan tidak pernah sia-sia. Mereka lahir karena penyelenggaraan Ilahi. Sama seperti orang lain, transpuan pun lahir dengan kelebihan, kekurangan, dan potensi masing-masing.

Namun, potensi para transpuan kerap tidak berkembang lantaran mereka belum ”selesai” dengan dirinya sendiri. Penolakan keluarga merupakan akar pahit hal ini.

”Ketika keluarga menerima, kebutuhan dasar manusia akan afeksi dan atensi jadi terpenuhi. Transpuan tidak akan menghabiskan waktu untuk mencari-cari kasih sayang. Dia bisa menggunakan waktu dan energinya untuk menggali potensi diri,” kata Merlyn di Jakarta, Senin (25/7/2022).

Merlyn sendiri bergumul cukup lama dalam hati sebelum diterima keluarga. Ia mulai merasa ”berbeda” sejak anak-anak, tetapi tidak pernah bisa mendefinisikan diri karena diskursus publik tentang disforia jender ataupun waria belum berkembang waktu itu. Seiring berjalannya waktu, ia sadar bahwa jiwanya perempuan, namun ia lahir dalam fisik laki-laki. Hal itu disimpan rapat-rapat oleh Merlyn.

Saat Merlyn berusia 21 tahun, ayahnya bertanya tentang identitas jender Merlyn. Ia memberanikan diri untuk berkata jujur dan bersiap menanggung konsekuensi yang mungkin terjadi, misalnya tidak diakui keluarga. Tak disangka, ayahnya menerima jati diri Merlyn, bahkan menawarkan apa ia mau operasi kelamin. Merlyn menolak dengan alasan sudah bahagia dengan dirinya apa adanya. Saat itu, ibu Merlyn sudah meninggal.

”Pesan Papi saat itu hanya satu: berprestasilah agar dihargai orang lain,” kata Merlyn. ”Di hari itu, aku tidak perlu lagi capek menjaga rahasia. Satu fase hidupku selesai di usia 21 tahun. Setelahnya aku masuk ke kehidupan bermasyarakat (sebagai transpuan).”

Mencari makna

Setahun setelah diterima ayahnya, Merlyn menyabet gelar sebagai ratu kontes kecantikan waria Indonesia tahun 1995. Ia beberapa kali meraih prestasi serupa beberapa tahun kemudian. Namun, hal itu tak langsung membuat sang ayah bangga. Ayah Merlyn rupanya memaknai prestasi sebagai hal yang melampaui kecantikan fisik.

Walau kecewa karena ayahnya tidak bangga, Merlyn tetap mengikuti kontes kecantikan waria sambil mencari makna soal prestasi. Ia bergabung dengan Ikatan Waria Malang (Iwama) dan menjabat sebagai ketua selama 15 tahun, yakni pada 1996-2011.

Ia terhubung dengan begitu banyak orang, baik komunitas, masyarakat, maupun pemerintah, saat menjadi Ketua Iwama. Ini dijadikan kesempatan baginya untuk berjejaring dan mengarusutamakan interaksi antara masyarakat dan transpuan. Interaksi itu berbuah manis. Masyarakat dan pemerintah setempat begitu menerima transpuan. Walau masih ada cemoohan dari sebagian orang, kesadaran untuk memandang transpuan sebagai individu yang setara mulai tumbuh.

Pada 2002, Iwama ditunjuk pemerintah untuk terlibat dalam proyek percontohan (pilot project) program penanggulangan HIV/AIDS tingkat nasional. Program ini berdampak positif di Malang, khususnya di bidang edukasi kesehatan. Banyak media yang meliput kegiatan Iwama. Merlyn lantas mengumpulkan kliping koran dan majalah yang memberitakan Iwama.

”Suatu hari, Papi bilang, ’Papi sudah terima kiriman berita-beritanya. Semoga Tuhan memberkati. Papi bangga.’ Setelahnya saya menangis kencang. Setelah delapan tahun sejak Papi menerimaku, akhirnya Papi bangga,” katanya.

Forum Keluarga

Setelah sang ayah meninggal pada 2006, Merlyn tetap melanjutkan upayanya membantu sesama transpuan. Kini Merlyn bergabung dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) sebagai program officer untuk program inklusi.

Salah satu program yang dijalankan di PKBI adalah Forum Keluarga. Forum ini mempertemukan keluarga para transpuan untuk saling berbagi informasi dan dukungan. Sebab, tidak semua keluarga paham cara menghadapi anggota keluarga yang memilih menjadi transpuan. Forum Keluarga juga mencoba melobi keluarga agar mau menerima transpuan. Upaya ini kadang berhasil, kadang tidak.

Keluarga juga diberi pemahaman tentang jender, disabilitas, dan inklusi sosial. Merlyn juga berencana memperkuat peran keluarga menjadi pendamping para transpuan jika mengalami diskriminasi atau kriminalisasi. Pelatihan anggota keluarga sebagai garda utama perlindungan para transpuan dimulai di beberapa daerah sejak Mei 2022. Adapun Forum Keluarga asuhan Merlyn ada di delapan provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Aceh, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Kepulauan Riau, dan Sumatera Selatan.

”Tujuan kami bukan ’mewariakan’ masyarakat, namun mengingatkan kembali peran dan tanggung jawab keluarga. Dengan penerimaan dan proteksi keluarga, transpuan tidak perlu keluar rumah dan turun ke jalan seperti yang sudah-sudah. Mereka jadi punya kesempatan mengembangkan diri secara positif dan berdampak positif bagi masyarakat pula,” tutur Merlyn.

Merlyn Sopjan

Tempat, tanggal lahir: Kediri, 16 Februari 1973

Prestasi:

– Top 3 Anugerah Saparinah Sadli 2012

– Putri Waria Indonesia 2006

– Waria berprestasi versi The New York Times 2003

Karier:

– Ketua Ikatan Waria Malang (1996-2011)

– Manager program HIV/AIDS di Malang (2002-2005)

– Case Manager HIV/AIDS RS Saiful Anwar, Malang (2005-2011)

– Program Officer PKBI untuk Program Inklusi (2014-sekarang)

Buku:

– Jangan Lihat Kelaminku (2005)

– Perempuan Tanpa V (2006)

– Wo(W)man (2016)

Editor: MOHAMMAD HILMI FAIQ

Artikel ini disadur dari https://www.kompas.id/baca/tokoh/2022/07/26/merlyn-sopjan-kepada-keluarga-aku-pulang