Ruang (Ny)Aman Discusses Unplanned Pregnancy and What to Do with It
6 November 2017
Show all

Inklusif Terhadap Waria, Duta Besar Australia Apresiasi Kecamatan Ujung Tanah

Duta Besar Australia untuk Perempuan dan Remaja Putri Dr. Sharman Stone melakukan kunjungan kerja ke Makassar, Rabu (1/11) di Aula Kantor Camat Ujung Tanah. Salah satu agenda dalam kunjungan kerja yaitu berdiskusi dengan komunitas waria, pemerintah, organisasi masyarakat sipil termasuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan pihak-pihak yang berkontribusi pada pemberdayaan waria di Makassar. Diskusi ini dimoderatori oleh Direktur Eksekutif Daerah PKBI Sulawesi Selatan Andi Iskandar Harun.

Camat Ujung Tanah Andi Unru dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya terhadap keberadaan komunitas waria di wilayah administratif Ujung Tanah. Menurutnya, kelompok waria merupakan kelompok inklusi sehingga warga kecamatan berusaha untuk hidup bersama mereka.

“Kami memastikan Waria di Ujung Tanah tidak didiskriminasi dan hidup layak seperti warga pada umumnya. Mereka diberikan akses layanan umum seperti KTP dan izin usaha. Mereka juga dilibatkan dalam program MTR (Makassar Tidak Rantasa),” tutur Andi Unru.

Sementara itu, Dr. Sharman Stone menyampaikan pesan akan pentingnya perlakuan non diskriminatif kepada kelompok minoritas. Duta Besar Australia itu juga memberikan apresiasi kepada Ujung Tanah sebagai salah satu kecamatan yang inklusif, yang bisa menjadi contoh bagi semua daerah di Indonesia bahkan di Australia.

“Kami punya undang-undang di Australia, tak boleh mendiskriminasi manusia, termasuk  transgender dan lain-lain. Camat bilang waria di sini bisa hidup bebas dan senang, kami sangat memuji hal itu. Untuk itu kami mau bekerja sama dengan kawan-kawan di sini, di program peduli ini,” ujar Sharman.

Senada dengan Sharman, Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Makassar Richard Mathews juga mengapresiasi warga dan pemerintah Kecamatan Ujung Tanah. Richard mengatakan Kecamatan Ujung Tanah merupakan daerah percontohan di Makassar dalam kesetaraan dan perlakuan yang sama. “Di sini waria mendapat perlakuan dan hidup seperti warga pada umumnya. Ia berharap hal serupa bisa dikembangkan di tempat lain,” tuturnya.

Dr. Sharman Stone dan rombongan dalam kunjungan kerjanya disambut langsung oleh Camat Ujung Tanah Andi Unru dan Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Ujung Tanah dengan pemberian buket bunga dan pengalungan selendang sutra khas Bugis Makassar, diiringi oleh tarian  penyambutan “Paduppa” oleh komunitas waria. Turut hadir mengiringi rombongan kunjungan kerja tersebut yaitu staf Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia serta Country Representatif The asia Foundation Sandra Hamid.

Peserta yang hadir dalam dikusi tersebut yakni komunitas waria – yang merupakan penerima manfaat Program Peduli yang dilaksanakan oleh PKBI Sulawesi Selatan sebanyak 10 orang –, Perwakilan dari Forum Jurnalis Inklusi, Kepala Dinas Sosial Makassar Muchtar Tahir, Lurah Pattingalloang Irfan Syam dan segenap staf kantor kecamatan Ujung Tanah. Sebelum proses diskusi juga ditayangkan video berdurasi enam menit tentang testimoni waria dan keluarga yang inklusif serta bentuk dukungan dari masyarakat, pemerintah dan jurnalis kepada komunitas waria.

Pentingnya Dukungan

Komunitas waria memanfaatkan momen ini untuk berdialog, menyampaikan pengalaman dan manfaat yang diterima oleh mereka selama adanya intervensi dari Program Peduli, serta harapan-harapan mereka. Seperti dikatakan Ibel, bahwa Program Peduli sudah mengubah hidupnya yang luar biasa dari yang tadinya seorang yang dipandang rendah karena dianggap sebagai “waria mangkal”, kini sudah menata hidup bersama keluarga menekuni usaha kuliner.

Perwakilan komunitas waria yang juga sebagai Ketua Waria Makassar Bunda Lin menyampaikan terima kasih kepada Program Peduli PKBI yang sudah memberikan banyak motivasi, menguatkan komunitas waria dan memfasilitasi waria kepada pemerintah khsususnya kepada Lurah, camat dan Dinas Sosial Makassar untuk akses dukungan, bantuan dan layanan, seperti akses memiliki Kartu Keluarga (KK), KTP, surat izin usaha, Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan berbagai bimbingan dan keterampilan kerja.

Sementara itu, perwakilan Forum Jurnalis Inklusi Andi Nur Ahmad menyampaikan dukungannya kepada kelompok waria dalam pemberitaan yang positif, baik sebagai promosi sosial kelompok waria agar opini-opini bisa merubah cara pandang dan mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap waria.

“Selama ini ada kesenjangan antara waria dan jurnalis sehingga kadang pemberitaan itu sangat tidak berimbang dan menambah stigma waria dari kalangan jurnalis maupun di masyarakat. Melalui PKBI Sulawesi Selatan jurnalis dan waria dipertemukan untuk mengubah pandangan jurnalis kepada waria. Jurnalis memberitakan positif waria, serta jurnalis bisa memberikan keterampilan menulis berita (jurnalisme warga) kepada waria,” tutur Andi Nur Ahmad.

Penulis : Kun Anang Supanto (PKBI Sulawesi Selatan)

Penyunting : Ryan A. Syakur