Perkuat Advokasi HKSR, PKBI Tandatangani MoU dengan LBH APIK
5 July 2017
Kliping Media : Auto Bahagia ala Kampanye Nikah Muda (dan Bagaimana Melawannya)
1 August 2017
Show all

Festival Suara Anak : Merawat Keberagaman, Cegah Kekerasan

Sesi II Obrolan Santai FSA menghadirkan Mas Veri (PKBI DKI Jakarta), Kukuh (Anak yang Pernah Berhadapan dengan Hukum dampingan PKBI DKI Jakarta), Kak Tasya (Lentera Anak Pelangi), Allegra dan Abigail.

Sejak pukul tujuh pagi, anak-anak mulai menghampiri pojok bermain di RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Sabtu (29/7). Tampak mereka sedang melempar dadu besar bermain ular tangga raksasa, menggambar dan mewarnai, juga ada beberapa yang menyusun kubikal. Beberapa orang tua mendampingi anaknya sambil mendengarkan cerita dari kakak-kakak fasilitator. Di Panggung Utama, Band Simponi sedang gladi resik mengecek kesiapan alat-alatnya jelang dimulainya acara.

Tepat pukul setengah delapan, acara puncak Festival Suara Anak dimulai. Anak-anak dan orang tua diajak untuk menuju area panggung utama.

“Suara anak…..

Berteman Yuk.

Berteman Yuk….

Hayuuuuk”,

bersahutan yel-yel yang disuarakan MC Kak Dian dan Kak Eva langsung disambut dengan semangat oleh anak-anak yang hadir. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Tim Penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta Ibu Erna Kusumawati. Selanjutnya, Koordinator Proklamasi Anak Indonesia Kak Bayu Jiwoadi menjelaskan maksud dan tujuan Festival Suara Anak : Berteman Yuk.

“Melalui kegiatan ini, mari kita bersama-sama memposisikan diri sebagai anak. Coba kita ingat kembali betapa menyenangkannya berteman dengan tulus, tanpa membeda-bedakan ciri-ciri fisik, status sosial, suku, agama, ras,” tutur Kak Bayu.

Kak Bayu melanjutkan, Keberagaman kita ini jangan pernah merusak pertemanan yang sudah dan akan terjalin. Malah ini yang semakin mempererat warna-warni pertemanan kita. Karena pemahaman tentang keberagaman yang melekat pada masing-masing anak merupakan salah satu yang mencegah kita untuk melakukan tindak kekerasan dalam bentuk apapun.

Puncak Festival Suara Anak diwarnai dengan berbagai penampilan dan kreasi dari anak-anak RW 02, antara lain aksi taekwondo dari anak-anak RW 02 dan puisi. Simponi juga secara spontan mengajak anak-anak ke atas panggung untuk bergembira bersama, bernyanyi lagu anak dan nasional. Selain itu, masih ada penampilan memukau dari duo Allegra dan Abigail.

Selain hiburan, Festival Suara Anak juga menampilkan Obrolan Santai. Sesi pertama menampilkan Mbak Mamik PAI, Faye dan Tasya Rumah Faye, SAPA Indonesia, Bu Ratna Sejiwa dan Sandra Puskapa UI membahas tentang kekerasan dan pencegahannya. Dalam sesi pertama ini disebutkan bahwa orang tua dan guru memiliki peranan terpenting terhadap tumbuh kembang anak, serta menghindarkan anak dari kekerasan. Orang tua dan guru perlu membekali anak dengan pemahaman tentang toleransi terhadap perbedaan. Anak juga bukan komoditas dan aset bagi orang tua, oleh karena itu anak jangan dibebani untuk memenuhi semua cita-cita dan harapan orang tuanya. Sehingga ia tercerabut dari masa kanak-kanaknya.

Sesi kedua membahas tentang pendekatan inklusi sosial untuk menumbuhkan relasi yang setara pada anak, yang menampilkan Mas Veri PKBI DKI Jakarta, Kukuh Anak yang Pernah Berhadapan dengan Hukum dan Tasya Lentera Anak Pelangi yang bercerita tentang program anak dengan HIV. Secara umum,  sesi ini menggarisbawahi pentingnya lingkungan yang  yang inklusif bagi seluruh anak tanpa kecuali. Lingkungan inklusif berarti di dalamnya masyarakat saling berinteraksi tanpa adanya jarak dan tanpa memandang status sosial, ekonomi, karakteristik sosial, budaya dan lain lain. Selain itu, juga terbebas dari segala bentuk stigma dan diskriminasi. Namun faktanya, stigma dan diskriminasi masih terus terjadi pada anak yang berhadapan dengan hukum, anak dengan HIV dan anak yang dimarjinalkan lainnya. Bisa dilihat dengan masih banyaknya anak yang mengalami kekerasan di dalam penjara, lalu dikucilkan ketika keluar dari sana. Anak dengan HIV juga masih ada yang dikeluarkan dari sekolah, mengalami stigma dan diskriminasi dari lingkungannya.

Menanam Bibit Keberagaman

Keberagaman merupakan hal yang sangat perlu untuk diperkenalkan kepada anak-anak untuk kemudian bersama-sama merawatnya. Karena keberagaman merupakan anugerah Tuhan yang tidak dapat dipungkiri oleh manusia. Terlihat jelas, kita sudah berbeda sejak awal kita dilahirkan. Berdasarkan hal tersebutlah, Jaringan Proklamasi Anak Indonesia (PAI) mengadakan Festival Suara Anak.

Kegiatan ini berlangsung dua kali, pertama, Sabtu 22 Juli di halaman gedung Lembaga Daya Dharma (LDD) bekerja sama dengan LDD dan BhineArt. Kegiatan kedua berlangsung pada Sabtu, 29 Juli di RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) DKI Berseri Pondok Kelapa bekerja sama dengan Pengelola RPTRA DKI Berseri dan Karang Taruna RW 02 Pondok Kelapa.

Pembukaan FSA, Sabtu (22/7) yang melibatkan kurang lebih 300 anak dari taman belajar dan sekolah dampingan LDD ini mengenalkan keberagaman melalui pemahaman sejarah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Anak-anak diajak untuk berjalan-jalan dan belajar sejarah dua tempat ibadah terbesar umat Islam dan Katolik di Indonesia yang langsung dijelaskan oleh Imam dan Romo masing-masing tempat ibadah tersebut.

PAI sangat menyadari bahwa pemahaman tentang keberagaman secara menyeluruh ini perlu ditanamkan ke anak-anak sejak dini. Mengingat bahwa anak seringkali menjadi korban kepentingan politik orang dewasa, hingga mereka bisa saling benci, saling hujat hanya karena perbedaan yang melekat padanya. Oleh karena itu Festival Suara Anak ini mengingatkan kita kembali akan pentingnya sebuah pertemanan yang tanpa membeda-bedakan.

Sebagai bagian dari Jaringan PAI, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) sangat antusias terlibat dalam kegiatan Festival Suara Anak ini. Melalui Festival Suara Anak, PKBI menyuarakan hak-hak Anak yang Berhadapan dengan Hukum yang seringkali terenggut karena kasus yang membelenggunya. Padahal semua orang harus menghargai bahwa setiap anak terlahir dengan segala keunikannya masing-masing. Setiap anak yang berhadapan dengan hukum adalah korban. Dan Negara seharusnya melindungi Hak-Hak seluruh anak Indonesia tanpa kecuali.

Mari bersama berjuang melindungi anak dari kekerasan setiap hari. Karena peduli terhadap hak-hak anak tidak hanya ada di tanggal 23 Juli (Hari Anak Nasional).

 

Penulis : Ryan A. Syakur